Rabu, 23 Maret 2011

PADANG RUMPUT DAN HIJAUAN PAKAN TERNAK

Sejak ribuan tahun yang silam telah terdapat interaksi kuat antara budaya umat manusia, ruminansia, rumput serta padang rumput. Pada masa sekarang, ilmu pengetahuan mengidentikasi adanya berbagai jenis padang rumput dan jenis-jenis rumput yang baik untuk produksi ternak ruminansia. Perkembangan itu didukung oleh adanya nilai ekonomi dari padang rumput, aktivitas-aktivitas penelitian yang sistematis dan adanya organisasi-organisasi yang secara konsisten memperhatikan keberadaan padang rumput sebagai aset produksi peternakan ruminansia. Hal-hal tersebut merupakan bagian dari uraian ini dengan tidak mengesampingkan bahwa hijauan juga berperan dalam perkembangan budaya maupun pemeliharaan lingkungan hidup yang menjamin stabilitas kesejahteraan manusia. Diskripsi tentang jenis-jenis hijauan pakan ternak yaitu rumput, leguminosa dan limbah pertanian juga disajikan secara cukup ekstensif.

1. Sebelum masehi
Istilah padang rumput kiranya bukanlah hal yang asing untuk masyarakat. Mendengar istilah itu kiranya akan timbul imajinasi tentang suatu area luas dan datar yang ditumbuhi rumput-rumputan serta, mungkin, dilengkapi segerombolan sapi yang sedang merumput. Dokumentasi sejarah memang menyebutkan bahwa hewan ruminansia, sebelum dijinakkan dan diternakkan oleh manusia untuk diambil hasil-hasilnya adalah hidup dengan bebas merumput di padang rumput. 

Disampaikan oleh Rifkin (1993) bahwa rumput-rumputan dan berbagai bentuk padang rumput selain mempunyai peran sebagai sumber pakan/nutrisi untuk mendukung kehidupan ternak ruminansia juga merupakan faktor penyebab perubahan budaya pertanian diberbagai belahan dunia. Disampaikan bahwa salah satu pusat perkembangan budaya pemeliharaan sapi pada berbagai wilayah dunia, termasuk Eropa, adalah kawasan padang rumput alam yang disebut stepa Eroasia (Eurasia steppes). Padang rumput alam ini sangat luas, terbentang antara Eropa Timur dan Ukraina di Barat serta Mongolia dan Mancuria di Timur (lihat Gambar 2.1.). Ribuan tahun sebelum masehi, kawasan stepa itu didiami suku bangsa Kurga yang bersifat nomadik. Setelah mampu menjinakkan kuda sehingga dapat ditunggangi dan mengembangbiakkannya kemudian maka suku bangsa Kurga mulai menjinakkan kawanan sapi. Lebih lanjut, jumlah pemilikan sapi menjadi ukuran kesejahteraan anggota masyarakat suku bangsa Kurga. Pemeliharaan sapi itu bertumpu pada ketersediaan rerumputan pada padang rumput alam yang dapat diaksesnya sebagai sumber pakan yaitu stepa Eroasia. Karena stepa Eroasia secara periodik mengalami kekeringan yang berakibat pada berkurangnya produksi rumput maka suku bangsa Kurga harus melakukan ekspansi untuk mencukupi pakan untuk sapi mereka yang jumlahnya menjadi semakin banyak. Sejak 4.400 – 4.300 tahun sebelum masehi, dengan menunggang kuda, orang-orang Kurga bersama kawanan sapinya melakukan perjalanan mengikuti jalur-jalur padang rumput alam kearah selatan hingga India, ke Timur hingga wilayah Cina, ke Utara hingga kepulauan Balkan dan Skandinavia serta ke Barat hingga wilayah Spanyol dan Inggris. Suku bangsa Kurga, seperti layaknya cowboy Amerika pada abad sembilan belas mempunyai superioritas militer yang bertumpu pada kemampuan mereka berkuda. Menggunakan kekutan militer itu suku bangsa Kurga menguasi teritori padang rumput di daerah arid di kawasan empat musim. Pada teritorial itu mereka sekaligus mengintroduksi budaya penggembalaan sapi dalam skala besar. Suku-suku bangsa asli kawasan Eropa yang semula bercocok tanam untuk kehidupannya, dengan adanya intervensi orang-orang Kurga kemudian berubah menjadi peternak sapi. Hingga saat ini, memelihara sapi yang dilepas merumput di padang rumput menjadi budaya bangsa-bangsa di Eropa.


Gambar 2.1. Peta daerah bentangan stepa Eroasia dari Hongaria disebelah Barat hingga Manchuria disebelah Timur serta suasana stepa tersebut yang berupa bentangan padang rumput luas


2. Padang rumput
Kenyataan menunjukkan bahwa rerumputan adalah komponen vegetasi yang menutupi lebih dari setengah permukaan lahan didaerah tropis dan sub-tropis. Adapun padang rumput (dalam bahasa Inggris disebut grassland) adalah tipikal dataran terbuka atau lahan yang ditumbuhi rumput-rumputan tinggi atau rendah disertai tanaman-tanaman semak dengan tidak ada atau ada sedikit tanaman perdu serta pohon-pohonan. Biasanya, perdu dan/atau pohon-pohonan itu berada disepanjang daerah aliran air hujan atau tempat penampungan air hujan. Apabila jenis rumput yang tumbuh pada padang rumput bersifat endemik atau asli setempat maka rumput itu disebut dengan rumput alam. Jenis padang rumput alam ini masih dapat dijumpai di semua benua: Afrika, Amerika Selatan, Amerika Utara, Eropa, Asia dan Australia. Disamping itu, terdapat pula padang rumput buatan yang sengaja dibuat dengan menanam jenis-jenis hijauan pakan ternak hasil seleksi atau pemuliaan tanaman yang bermutu.

2.1. Terminologi
Pada tahun 1966, Pratt, Greenway dan Gwynne mengusulkan penggunaan luas kanopi (canopy cover) dari pohon-pohonan dan tanaman semak serta perdu sebagai kriteria padang rumput. Usulan itu mendefinisikan padang rumput sebagai area yang didominasi rumput-rumputan namun terdapat pula pohon-pohonan, tanaman perdu serta semak secara menyebar atau mengelompok dengan luas kanopi tidak lebih dari dua persen dari total area. Apabila kanopi dimaksud luasnya berada diantara dua sampai dua puluh persen maka area tersebut didefinisikan sebagai padang rumput bertanaman kayu-kayuan dan semak (bushed and wooded grasslands). Definisi ini dapat diterima oleh kalangan ahli padang rumput seperti disampaikan dalam pustaka bidang hijauan pakan ternak yang disusun oleh misalnya Mannetje (1978) serta Crowder dan Chheda (1982). Namun, antar lokasi atau ekologi dijumpai hamparan padang rumput dengan komposisi antara rumput, semak dan pepohonan yang beragam hingga memerlukan terminologi tertentu untuk menyebutnya seperti dibawah ini.

- Sabana. Kawasan yang disebut sabana adalah kawasan dengan vegetasi rumput-rumputan serta tanaman berkayu. Dikenal pula sebagai ekosistem tanam-tanaman berkayu. Ruang antar pohon cukup luas karena kanopi antar pohon tidak saling menutup. Ruang antar kanopi yang terbuka itu memungkinkan sinar matahari mencapai permukaan lahan untuk menunjang kehidupan rerumputan. Seringkali sabana dijumpai sebagai bentuk transisi antara ekosistem hutan dan padang pasir. Istilah sabana (dalam bahasa Inggris disebut savana) pertama kali digunakan pada tahun 1535 oleh Oviedo dengan mengacu pada suatu kata dari bahasa Spanyol zavana yang dipakai untuk menggambarkan area terbuka dengan lembah-lembah yang ditumbuhi rerumputan sperti llanos yang ada di kawasan Venezuela (Crowder dan Chheda, 1982).
- Stepa. Pada awalnya, istilah stepa (dalam bahasa Inggris disebut steppe) digunakan untuk menyebut kawasan di Rusia dan Asia yang ditumbuhi vegetasi yang tidak membutuhkan banyak air untuk hidupnya. Stepa secara fisik mempunyai persamaan dengan Prairie dibenua Amerika. Perbedaanya adalah bahwa prairie didominasi oleh jenis-jenis rumput yang tumbuh tinggi sedangkan rumput pada kawasan stepa adalah jenis-jenis yang tumbuh pendek.

Memperhatikan jenis-jenis vegetasi pada dua jenis padang rumput diatas, Keay (1959) membuat diskripsi bahwa sabana adalah area yang ditumbuhi rumput-rumputan mesophytic (membutuhkan pasokan air medium), bersifat perennial dan tingginya minimum 80 cm. Sedangkan stepa adalah area yang ditumbuhi rumput-rumputan xerophytic (membutuhkan pasokan air rendah), bersifat perennial dan tingginya kurang dari 80 cm. Kedua definisi itu sekaligus menunjukkan bahwa sabana berada pada kawasan yang relatif lebih basah (semi-arid) dibandingkan kawasan stepa yang relatif lebih kering (arid). Namun kemudian, Pratt dkk (1966) menyatakan bahwa definisi dari Keay diatas tidak sesuai untuk kondisi Afrika Timur karena berbagai padang rumput yang ada disana dapat digolongkan sebagai stepa maupun sabana. Namun karena istilah sabana dan stepa sudah lama digunakan dengan maksud untuk membedakan dua ekosistem padang rumput maka kedua terminologi yang mempunyai nilai sejarah itu tidak mungkin dihilangkan dari sistem padang rumput secara global. Berakar pada persoalan ini maka Pratt dkk (1966) mendefinisikan padang rumput secara lebih universal seperti telah disampaikan pada alinea pertama uraian ini.

Selain definisi padang rumput seperti yang disampaikan oleh Pratt dkk (1966) diatas, terdapat definisi lain yang disampaikan oleh Mannetje (1978). Penulis yang disebutkan terakhir itu mendefinisikan padang rumput sebagai suatu ekosistem sumber pakan hijauan untuk ternak ruminansia. Kata ekosistem dalam pengertian ini mengandung arti bahwa manusia berkepentingan dengan seluruh komponen-komponen sistem padang rumput seperti tanah, tanaman, faktor-faktor iklim pendukungnya serta ruminansia yang pakannya bergantung pada padang rumput itu secara langsung atau tidak langsung. Ketergantungan ruminansia terhadap padang rumput terjadi secara langsung pada sistem ekstensip dimana ternak merumput (grazing) pada padang rumput. Sedangkan pada sistem intensif dimana pemberian pakan dilakukan secara cut and carry maka ternak tidak berinteraksi langsung dengan padang rumputnya.

2.2. Pertanian Padang Rumput
Jika tidak ada aktivitas ekonomi, padang rumput sebagaimana diuraikan diatas hanya akan menjadi bagian kekayaan ekosistem dunia. Ternyata manusia memanfaatkan kekayaan ekosistem itu untuk peningkatan kesejahteraannya. Seperti telah disampaikan pada sub-bab 2.1. bahwa ribuan tahun sebelum masehi stepa Ero-Asia telah dimanfaatkan sebagai basis kegiatan pemeliharaan sapi. Ternak ini menjadi ukuran kesejahteraan masyarakat suku bangsa Kurga. Disamping itu, kebutuhan akan padang rumput untuk memelihara sapi yang menjadi semakin banyak telah mendorong suku bangsa Kurga untuk melakukan ekspansi guna memperluas penguasaan teritorialnya. Setelah sapi dan budaya pemanfaatan padang rumput meluas hingga ke Eropa maka terjadilah periode intensifikasi pemanfaatan padang rumput. Tercatat dalam sejarah budaya pemeliharaan sapi bahwa pada tahun 1800-an, bangsa Irlandia dan Skotlandia melakukan investasi demi mengintensifkan pemanfaatan padang rumput yang mereka miliki sebagai sarana memelihara sapi untuk memproduksi daging (Rifkin, 1993). Konsumen utama daging itu adalah orang-orang Inggris yang dikenal sebagai konsumen paling fanatik di Eropa. Kemudian, pada tahun 1870-an para imigran Inggris tercatat mulai memanfaatkan padang rumput yang ada di benua Amerika untuk memelihara sapi dan menghasilkan daging. Dari waktu ke waktu, kegiatan itu semakin berkembang sehingga para pengusaha Bank di Amerika, investor dari Edinburg-Scotland dan para spekulator lokal melakukan investasi secara besar-besaran. Padang rumput dipandang sebagai tambang emas karena dengan investasi yang dilakukan itu dapat diproduksi daging untuk memasok kebutuhan masyarakat Eropa, terutama Inggris. Sebagai upaya mendukung transportasi sapi dan daging yang dihasilkan padang rumput Amerika untuk dikirim ke konsumennya di Eropa maupun di Amerika sendiri maka dibangunlah sarana jalur-jalur kereta api.

Adanya keuntungan yang diperoleh dari memanfaatkan padang rumput untuk memelihara sapi dan menghasilkan daging seperti disampaikan diatas telah mendorong terbentuknya suatu bentuk pertanian padang rumput (grassland agriculture). Pertanian ini bertumpu pada tata-laksana pemanfaatan lahan untuk budidaya rumput-rumputan dan leguminosa dalam rangka usaha produksi ternak ruminansia. Usahatani padang rumput (grassland farming) kemudian berkembang sebagai salah satu bentuk kegiatan manusia. Tujuan kegiatan pertanian itu adalah memanfaatan padang rumput untuk menyediakan pakan murah dalam bentuk rumput-rumputan, hoi atau silase. Usaha itu tidaklah mudah karena ternyata sistem produksi padang rumput adalah cukup kompleks apalagi, setelah manusia berkeinginan memanfaatkannya secara lebih efisien. Berbagai persoalan yang berkembang dalam tatalaksana pemanfaatan padang rumput kemudian membutuhkan penanganan secara ilmiah. Bagaimana mendapatkan produksi hijauan yang bermutu dalam jumlah banyak dan bagaimana memanfaatkannya secara optimal merupakan contoh dari persoalan padang rumput yang memerlukan jawaban empiris. Situasi itu telah mendorong berkembangnya ilmu pengetahuan tentang padang rumput (science of grassland). Ilmu ini merupakan ramuan dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan yaitu dari kompleks ilmu tanah, ilmu iklim, ilmu tanaman, ilmu ternak dan ilmu ekonomi. Ramuan ilmu pengetahuan itu diharapkan bukan hanya dapat mendasari mekanisme produksi ternak yang efisien namun juga sekaligus mampu menjaga mutu lahan sehingga tercipta sistem pertanian/peternakan yang berkelanjutan (sustainable animal agriculture systems).

Disampaikan diatas bahwa faktor keuntungan dari kegiatan produksi daging berbasis pada padang rumput telah mendorong berkembangnya pertanian padang rumput (grassland agriculture). Secara formal, The American Forage and Grassland Council, pada tahun 1959, mendefinisikan pertanian padang rumput sebagai pemanfaatan rumput dalam pertanian secara tepat guna (the proper use of grass in agriculture). Pada masa sekarang, pertanian padang rumput tidak hanya membudidayakan rumput namun juga leguminosa. Integrasi kedua jenis tanaman itu dalam pertanian padang rumput memberikan berbagai manfaat untuk petani serta masyarakat luas. Manfaat itu meliputi hal-hal seperti terlindunginya tanah dari erosi oleh air dan/atau angin, tersedianya pakan bermutu yang murah untuk ternak ruminansia dan juga satwa liar, tersedianya habitat yang baik untuk satwa liar (seperti halnya pada taman-taman safari) serta terjaganya kesuburan lahan karena bahan organik lahan mengalami penambahan secara lebih berkelanjutan.

Perkembangan manajemen padang rumput (grassland) sebagai basis produksi sapi lebih lanjut melahirkan terminologi lain yaitu pastura (pasture). Adapun yang dimaksud dengan terminologi ini adalah lahan pada suatu unit usahatani atau ranci (ranch) yang ditumbuhi vegetasi untuk dirumput ternak ruminansia. Pada tahun 1990-an dimana teknologi manajemen pastura semakin berkembang maka batas pastura antar tiap unit usahatani semakin jelas dengan adanya pagar listrik (electronic fence). Pastura semakin berkembang dinegara-negara yang maju peternakannya seperti Amerika, Australia dan negara-negara di Eropa. Melalui manajemen pastura yang bertujuan mendapatkan produksi ternak tinggi maka padang rumput alam diperbaiki dengan melakukan introduksi jenis-jenis hijauan yang unggul dari segi mutu maupun kuantitas produksinya disertai tata-laksana pengelolaan lahan dan pengairan.

2.3. Riset dan Organisasi Pengembangan Padang Rumput
Padang rumput telah lama dirasakan sebagai bagian kehidupan yang memberikan berbagai manfaat untuk pengelolanya serta masyarakat luas. Walaupun demikian peningkatan pemanfaatannya dirasa perlu terus-menerus dikembangkan untuk mendapatkan efisiensi sistem produksi ternak ruminansia yang lebih baik. Diperkirakan pada abad enam belas peternak di Inggris mulai memperbaiki padang rumput alam dengan rumput-rumput hasil seleksi. Hal ini diikuti dengan mulai diterapkannya teknik pembuatan padang rumput campuran antara rumput dan leguminosa pada abad tujuh belas. Seratus tahun kemudian, pola ley farming yaitu penggunaan lahan secara bergantian untuk produksi tanaman pangan dan rumput diterapkan. Pemupukan padang campuran rumput dan leguminosa mulai dilakukan pada sekitar tahun 1880-an. 

Pengembangan teknik-teknik produksi padang rumput semakin menuntut dukungan riset yang sistematis. Secara formal tercatat bahwa riset terkait dengan bidang padang rumput dan pastura dimulai dengan pendirian Agricultural Research Station di Rothamsted pada tahun 1843. Kemudian, penelitian pemupukan pada pastura di Jerman dilakukan pada abad sembilan belas. Tercatat berikutnya bahwa riset dalam bidang nutrisi ternak yang merumput di padang rumput dimulai di Rowett Research Institute di Skotlandia pada tahun 1914. Riset dalam bidang pemuliaan hijauan pakan ternak tercatat dimulai tahun 1919 oleh Welsh Plant Breeding Station di Aberystwyth, Inggris.

Pada tahun 1920, para ilmuwan yang bekerja di negara-negara Eropa Utara dan Eropa Tengah mendorong berdirinya International Grassland Congress. Organisasi ini secara berkesinambungan berupaya mendorong interaksi antara ilmuwan dan teknisi untuk perbaikan tatalaksana pemanfaatan dan peningkatan produksi padang rumput. Hingga saat ini organisasi ini selalu aktif melakukan pertemuan-pertemuan international. Jiwa untuk mengembangkan padang rumput demi kepentingan umat manusia diungkapkan dalam website milik The International Grassland Congress (2006) sebagai berikut “to promotes interchange of information on all aspects of natural and cultivated grasslands and forage crops for the benefit of mankind, including sustained development, food production and the maintenance of biodiversity”. Selain organisasi yang berkembang di Eropa seperti disampaikan diatas, di benua Amerika berkembang The American Forage and Grassland Council. Organisasi berperan mempromosikan riset dan pendidikan dalam bidang hijauan pakan ternak dan efisiensi pemanfaatan padang rumput. Ada pula organisasi yang didirikan sekitar tahun 1970-an dengan nama International Rangeland Congress yang berupaya untuk meningkatkan pengetahuan dan apresiasi pemanfaatan ekosistem padang rumput alam (rangeland) untuk kepentingan masyarakat luas. Adapun di Amerika selatan berkembang lembaga riset dengan nama Centro Internacional de Agriculture Tropical (CIAT). Lembaga ini, bekerjasama dengan Food and Agriculture Organization (FAO) menyajikan website berisi profile dari lebih 600 species hijauan pakan ternak jenis rumput maupun leguminosa. Melalui website ini (http://www.fao.org/ag/agp/agpc/doc/gbase/default.htm) dapat diketahui diskripsi tiap jenis hijauan pakan ternak disertai dengan foto. 

Sama dengan yang terjadi di Eropa dan Amerika, di Australia berkembang organisasi yang mempromosikan riset dan pendidikan untuk pengembangan padang rumput yang menamakan diri The Tropical Grassland Society. Organisasi ini secara konsisten membiayai riset, kongres, penerbitan jurnal hasil-hasil penelitian serta newsletter yang terkait dengan pengembangan hijauan pakan ternak serta padang rumput. Disamping itu, lembaga riset Australia yaitu Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization (CSIRO) mengintroduksikan berbagai jenis hijauan ke Australia pada tahun-tahun antara 1930 sampai 1950. Riset untuk seleksi dan pemuliaan yang dilakukan lembaga ini menghasilkan berbagai kultivar atas species-species hijauan pakan ternak yang berasal dari Afrika.

Kecuali website yang memuat diskripsi berbagai jenis hijauan pakan ternak tersebut diatas, pada saat ini upaya pengembangan dan peningkatan hijauan pakan ternak serta pastura tropika juga difasilitasi oleh hadirnya website bernama Tropical Forages (http://www.tropicalforages.info). Website ini adalah hasil kerjasama berbagai lembaga yang berkecimpung dalam promosi serta riset hijauan pakan ternak dan/atau pertanian padang rumput serta lembaga donor yang menaruh perhatian dalam bidang itu yaitu FAO, CIAT, CSIRO, ILRI (International Livestock Research Institute) dan DFID (Department for International Development). Australian Centre for International Agricultural Research serta Department of Primary Industires and Fisheries of the Queensland Government.

3. Hijauan Pakan Ternak
Sejalan dengan kegiatan manusia untuk mendapatkan manfaat sebesar-besarnya dari ternak ruminansia, padang rumput alam diperbaiki mutunya dengan melakukan introduksi jenis-jenis tanaman unggul sebagai hijauan pakan ternak. Pastura, pada umumnya dikembangkan dengan membudidayakan jenis-jenis rumput dan leguminosa pakan ternak yang unggul dari segi kualitas dan produksinya. Hal itu dapat dilihat secara nyata pada peternakan ruminansia berbasis pastura seperti yang ada di Australia, Amerika atau Eropa. Pola peternakan ekstensif pada negara-negara itu umumnya bersifat monokultur. Seorang peternak sapi potong atau sapi perah atau kambing, dapat dikatakan bahwa pendapatannya sepenuhnya bergantung pada usaha peternakannya itu. Lahan yang mereka miliki atau kuasai, dialokasikan secara khusus untuk produksi ternak ruminansia. Untuk itu, lahan sepenuhnya digunakan untuk budidaya jenis-jenis rumput dan/atau leguminosa pakan ternak hasil seleksi yang mempunyai manfaat secara spesifik untuk ruminansia.

Berbeda dengan situasi diatas, pada kawasan pertanian campuran (mixed farming) dimana ruminansia umumnya dipelihara secara intensip seperti halnya di Jawa, Bali dan Madura, maka lahan yang dimiliki atau dikuasai oleh petani-ternak umumnya diprioritaskan untuk budidaya tanaman pangan dan/atau tanaman industri. Apabila ada diantara petani-ternak membudidayakan hijauan pakan ternak maka hal itu dilakukan pada lahan-lahan marjinal seperti galengan sawah atau tegalan, tanah miring atau datar yang kondisi fisik atau kesuburan lahannya tidak layak untuk budidaya tanaman pangan dan/atau tanaman industri. Ternak ruminansia diberi pakan secara zero grazing. Apabila kepada petani-ternak ditanyakan tentang jenis pakan hijauan yang diberikan kepada ternak ruminansia yang mereka pelihara maka umumnya mereka menyatakan bahwa ternak mereka diberi pakan rumput. Tetapi, jika komposisi botani dari hijauan yang diberikan kepada ternak diamati secara detil akan teridentifikasi bahwa rumput yang dimaksud meliputi juga daun daunan tanaman semak atau pohon-pohonan serta limbah pertanian seperti jerami padi, jerami jagung dan pucuk tebu. 

Situasi diatas menunjukkan bahwa hijauan pakan ternak pada kawasan pertanian campuran lebih beragam daripada di kawasan pastura. Beragam jenis hijauan itu, oleh masyarakat petani-ternak di pedesaan di Jawa disebut dengan satu kata yaitu rumput. Penyebutan beragam jenis vegetasi dengan istilah rumput juga dilakukan ditingkat akademisi dan peternak negara-negara maju. Sebagai contoh, istilah padang rumput yang dalam bahasa inggris disebut grassland sebenarnya tidak menunjukkan suatu area yang hanya ditumbuhi rumput-rumputan saja. Kenyataan menunjukkan bahwa padang rumput juga ditumbuhi beragam jenis vegetasi termasuk rumput, leguminosa, tanaman semak maupun pohon-pohonan. Untuk tidak terjebak dengan persoalan semantik, jenis-jenis hijauan yang dimanfaatkan sebagai pakan ternak ruminansia atau hijauan pakan ternak pada kawasan yang berbasis pada pastura, padang rumput atau pada kawasan dengan pemberian pakan secara zero grazing dapat dikelompokkan atas rumput, leguminosa, daun-daunan dan limbah pertanian.

Sebelum membicarakan lebih lanjut tentang masing-masing jenis hijauan pakan ternak, terlebih dahulu akan disampaikan berbagai terminologi dalam pustaka-pustaka asing yang seringkali membingungkan pembacanya. Terminologi tersebut hadir sebagai hasil aktivitas manusia memanfaatkan padang rumput alam hingga menjadi pastura yang difasilitasi oleh riset dan teknologi. Adapun terminologi dimaksud yaitu:
- Forage. Terminologi ini menunjuk pada bagian-bagian tanaman yang dapat dimakan oleh ternak (edible parts of plants) dengan cara dirumput (grazing) atau dipanen sebagai pakan (zero grazing). Namun, biji dari tanaman dimaksud tidak termasuk dalam pengertian forage.
- Herbage. Adapun yang dimaksud dengan herbage adalah biomasa tanam-tanaman semak yang berada diatas tanah tempat tumbuhnya serta akar yang dapat dimakan ternak dan umbi. Biji dari tanaman dimaksud tidak termasuk dalam pengertian herbage.
- Browse. Adapun yang dimaksud dengan terminologi ini adalah daun dan tangkai daun tanam-tanaman perdu, woody vines, pohon, kaktus serta vegetasi bukan semak yang dapat dikonsumsi oleh ternak.
- Fodder. Terminologi ini menunjukkan jenis-jenis rumput kasar seperti jagung serta sorghum yang dipanen saat daunnya masih hijau (segar) bersama-sama bijinya dan mengalami perlayuan dilapangan sebelum semuanya diberikan kepada ternak.
- Residue. Adapun yang dimaksud dengan residue adalah forage yang tinggal dilahan pertanian sebagai konsekuensi dari panen tanaman.
- Silage. Adapun yang dimaksud dengan silage adalah forage yang diawetkan dalam keadaan segar. Pengawetan dilakukan pada kondisi an-aerob atau kedap udara.
- Hay. Adapun yang dimaksud dengan hay adalah rumput atau jenis tanaman lain yang dipanen kemudian dikeringkan dan digunakan sebagai pakan ternak.
- Haylage. Adapun yang dimaksud dengan haylage adalah produk dari pembuatan silase dengan kadar air sekitar 45%.
Selanjutnya, definisi dari rumput dan leguminosa disampaikan secara lebih ekstensif seperti dapat diikuti dari uraian pada sub-bab dibawah ini.

3.1. Rumput
Rumput tergolong dalam Famili Gramineae yaitu tanaman monokotiledon (bijinya terdiri atas satu kotiledon atau disebut juga berkeping satu). Struktur rumput relatif sederhana, terdiri dari akar yang bagian atasnya silindris dan langsung berhubungan dengan batang. Batangnya berbuku, helai daunnya keluar dari pelepah daun (sheath) pada buku batang. Malai rumput terdiri atas beberapa bunga yang nantinya menghasilkan biji. Hampir semua rumput adalah tanaman herba (tidak berkayu) sedangkan ukuran, bentuk dan pola tumbuhnya sangat beragam.

Asal usul rumput sebagai suatu jenis tanaman spesifik belum diketahui dengan pasti. Sejarah mencatat bahwa rumput sudah menjadi vegetasi di dunia sejak 20 juta tahun yang lampau. Penyebaran rumput pada seluruh benua mengalami akselerasi pada jaman es Pleistocene sekitar satu juta tahun yang lalu. Penyebarannya pada beragam lingkungan serta persilangan-persilangan yang terjadi secara alamiah menyebabkan rumput-rumputan semakin beragam. Melalui sistem klasifikasi tanaman yang dimiliki para ilmuwan bidang sistimatika tumbuhan dapat diidentifikasi bahwa pola distribusi rumput-rumputan mempunyai hubungan dengan distribusi iklim dunia. Pengelompokan genus dan species secara regional dapat dilakukan. Kehadiran suatu jenis rumput pada kawasan tertentu dianggap sebagai jenis asli kawasan itu. Hingga saat ini dikenal tiga kawasan sebagai asal dari jenis-jenis rumput budidaya yaitu kawasan Ero-Asia, Afrika Timur dan Amerika Selatan. Kawasan Ero-Asia tengah dan Mediteran dikenal sebagai asal-usul berbagai species rumput temperate (empat musim). Sedangkan rumput-rumput tropika yang dikenal berasal dari Afrika meliputi species-species Adropogon, Brachiaria, Cenchrus, Chloris, Cynodon, Dichantium, Digitaria, Eragrostis, Hyparrhenia, Melinis, Panicum, Pennisetum, Setaria, Sorghum dan Urochloa. Sedangkan species-species yang dikenal berasal dari Amerika Selatan adalah Axonopus, Paspalum, Tripsacum dan Zea.

Terdapat lebih dari 600 genus dan lebih dari 10.000 species rumput didunia ini namun hanya sekitar puluhan sampai ratusan species yang dibudidayakan manusia. Diantara berbagai species itu, yang paling populer di Indonesia adalah rumput gajah (Pennisetum purpureum). Rumput ini memang paling menonjol dipromosikan untuk dibudidayakan di kawasan pertanian campuran dimana lahan yang dapat dialokasikan untuk menanam rumput relatif sempit. Pada satu unit lahan maka rumput gajah memberikan biomasa yang besar dibandingkan jenis rumput lain. Hal itu dikarenakan rumput itu tumbuh tegak dan tinggi, mencapai 1,5 meter, sehingga jumlah biomasa per unit tanamannya lebih tinggi daripada jenis-jenis rumput yang tumbuh pendek. Pada Gambar 2.2. dapat dilihat bahwa rumput gajah dapat melebihi tinggi manusia jika dibiarkan lama tidak dipotong atau dipanen.


Gambar 2.2. Tanaman rumput gajah (Pennisetum purpureum) yang populer dibudidayakan sebagai pakan hijauan untuk ruminansia di ndonesia


3.1.1 Sebagai Bahan Pangan
Kehadiran rumput didunia tidak hanya bermanfaat untuk kehidupan ruminansia. Interaksi rumput dengan manusia secara langsung telah menjadikan rumput sebagai bagian dari budaya pangan manusia. Dahulu kala, diperkirakan sebelum 13.000 tahun yang silam, manusia masih hidup secara nomadik. Migrasi yang dilakukan manusia dari satu lokasi ke lokasi lain juga disertai dengan proses mengumpulkan biji dari beragam jenis tanaman untuk dibawa sebagai persediaan pangan. Sebagian besar biji tanaman yang dikumpulkan itu berasal dari rumput-rumputan (Crowder dan Chheda, 1992). Beberapa jenis tanaman itu mengalami perkawinan silang pada lingkungan barunya sehingga menambah keragaman jenis tanaman penghasil pangan. Dalam perkembangan budaya manusia, sekitar 11.000 tahun yang silam, seleksi mulai dilakukan terhadap jenis-jenis tanaman yang paling disukai manusia untuk dikembangkan demi mengamankan ketersediaan pangan mereka. Proses ini menghasilkan jenis-jenis tanaman pangan seperti sorgum (Sorghum), bulrush millet (Pennisetum americanum), finger millet (Eleusine coracana), teff (Eragrostis abyssinia) di Afrika; padi (Oryza sativa) di Asia; gandum (Triticum spp), rye (Secale cereale) dan barley (Hordeum spp) di Euro-Asia serta jagung (Zea mays) di Amerika. 

Budidaya jenis-jenis rumput sebagai tanaman pangan mulanya dilakukan dengan pola berpindah-pindah dari satu lokasi ke lokasi lain sehingga budidaya dapat selalu dilakukan pada lahan yang subur (slash and burn agriculture). Hal ini, kecuali dapat menjamin produksi butiran untuk pangan juga memfasilitasi penyebaran dan kehadiran jenis-jenis rumput lain. Karena, setelah biji tanaman pangan dipanen untuk pangan kemudian lahan tempat tumbuhnya ditinggalkan untuk berpindah ke lahan lain maka lahan yang ditinggalkan secara alamiah akan ditumbuhi rumput-rumputan semusim, diikuti rumput-rumputan tahunan dan kemudian tanaman-tanaman berkayu. Rumput-rumputan ini menjadi sumber pakan alamiah untuk ruminansia.

Setelah melewati masa pola kehidupan mengumpulkan dan berburu (hunting and gathering) untuk menjamin keamanan pangan kemudian pada periode antara 11.000 sampai 10.000 tahun yang lalu, pola hidup manusia yang nomadik mulai berubah menjadi semi-menetap (Reed, 1969; Flannery, 1969). Pola hidup semi-menetap atau menetap itu menuntut penangkaran dan budidaya tanaman pangan. Hewan herbivora yang mulanya merumput bebas pada padang rumput alam yang terbentuk akibat perladangan berpindah juga harus ditangkar agar dapat dipelihara ditempat tertentu sehingga tidak mengganggu/ memakan tanaman pangan yang sedang tumbuh pada lahan pertanian sampai bijinya dapat dipanen. Dengan demikian, proses penangkaran hewan diperkirakan juga berlangsung pada kurun waktu dimana orang mulai melakukan budidaya tanaman pangan secara semi-menetap atau menetap. Selama proses penangkaran, hewan herbivora dipelihara dengan diberi pakan rumput-rumputan, daun-daunan tanaman semak atau pohon-pohonan serta daun dan batang limbah tanaman pertanian. Bahan-bahan dengan ligno-selulosa tinggi ini tidak bersaing dengan kebutuhan konsumsi manusia dan justru ternak herbivora dapat mengubahnya menjadi bahan-bahan yang dibutuhkan manusia seperti susu, daging, kulit dan wool.

3.1.2. Sebagai Bahan Pakan
Telah disingung pada berbagai sub-bab diatas tentang adanya interaksi antara rumput, padang rumput dan ruminansia sejak masa silam hingga saat ini. Padang rumput alam di Eropa, Asia, Amerika dan Australia secara tradisional telah menjadi sumber pakan ruminansia yang merumput di padang itu. Investor yang berupaya mendapatkan keuntungan dengan memanfaatkan padang rumput alam untuk memproduksi daging atau susu melakukan investasi memperbaiki produktivitas padang rumput alam. Hal ini difasilitasi pula oleh riset yang memungkinkan efisiensi tatalaksana pemanfaatan padang rumput serta seleksi jenis-jenis rumput yang sesuai untuk dibudidayakan dalam rangka peningkatan produktivitas. Sejalan dengan hal ini berbagai jenis rumput telah terseleksi dari kawasan Ero-Asia, Afrika dan Amerika Selatan (lihat alinea 2 sub-bab 2.3.1.) untuk dibudidayakan secara khusus dalam rangka menunjang peningkatan produksi ternak ruminansia.

Tidak banyak dari belasan atau puluhan ribu species rumput yang kemudian terpilih menjadi jenis-jenis rumput budidaya. Untuk tujuan memperbaiki padang rumput alam, membangun pastura ataupun untuk keperluan pemuliaan hijauan pakan ternak terdapat karakteristik yang diharapkan dari jenis-jenis rumput ataupun leguminosa yang akan diseleksi. Karakteristik harapan itu dapat bersifat umum atau spesifik. Adapun karakter harapan yang spesifik itu bergantung pada situasi kondisi tertentu dimana rumput atau leguminosa terseleksi akan dimanfaatkan. Sedangkan karakter yang secara umum diharapkan dari rumput atau leguminosa adalah mampu berproduksi tinggi dengan kualitas baik, persisten, mampu ber-asosiasi dengan jenis-jenis hijauan lain serta mudah untuk dikembangbiakkan. Karakteristik tersebut pada akhirnya harus dapat memberikan produksi ternak yang tinggi. Adapun diskripsi dari masing-masing karakter itu adalah:
1. Kemampuan Produksi dan Kualitas Tinggi. Artinya, bahwa hijauan mampu menghasilkan bahan kering yang tinggi, toleran terhadap cekaman air, temperatur tinggi ataupun rendah, mempunyai tingkat kecernakan dan palatabilitas tinggi sehingga dapat dikonsumsi ternak dalam jumlah tinggi pula.
2. Persisten. Berbeda dengan tanaman pangan maka hijauan pakan ternak, rumput atau leguminosa, diharapkan untuk lebih permanen pada pastura. Untuk itu maka mereka diharapkan untuk tahan terhadap pemotongan normal ataupun penggembalaan, mampu menghasilkan biji, tahan kekeringan, temperatur ekstrim dan api serta tahan terhadap penyakit dan serangan hama
3. Mampu berasosiasi dengan species lain. Berbagai pastura seringkali dibangun dengan mencampur rumput dan leguminosa dengan tujuan menyediakan hijauan berkualitas tinggi secara kontinyu, menyediakan ransum seimbang dalam hal protein, energi dan mineral serta menekan kebutuhan pupuk nitrogen dengan memanfaatkan transfer nitrogen dari leguminosa pada rerumputan. Terkait dengan hal ini, beberapa faktor yang relevan dengan kemampuan ber-asosiasi yang perlu diperhatikan adalah sifat tumbuh tanaman (membelit, merayap atau vertikal), kemampuan berkompetisi atas unsur hara ataupun sinar matahari, mempunyai palatabilitas baik dan mempunyai respon yang positip terhadap pemotongan
4. Mudah dikembangbiakkan. Meskipun diketahui berbagai jenis rerumputan ataupun leguminosa dapat dikembangbiakkan dengan stek ataupun sobekan rumpun (secara vegetatip) tetapi kemampuannya untuk menghasilkan biji perlu mendapatkan perhatian. Hal tersebut untuk memastikan adanya regenerasi tanaman seandainya terjadi keadaan alamiah yang tidak diharapkan seperti musim kering yang panjang dan memungkinkan pembuatan padang rumput baru melalui cara generatip. Apabila kemampuan hijauan pakan ternak menghasilkan biji adalah buruk maka kemungkinan akan menimbulkan beberapa masalah seperti mahalnya harga biji tanaman itu dan kegiatan seleksi serta pemuliaan dapat terhambat karena biji yang tersedia untuk evaluasi hanya sedikit.

Untuk setiap kawasan selalu dijumpai jenis-jenis rumput yang dapat beradaptasi dengan kondisi setempat. Beberapa jenis rumput budidaya yang sesuai untuk kawasan dengan iklim tropika basah adalah Brachiaria mutica, Cynodon dactylon, Digitaria decumbens, Melinis minutiflora, Pennistem clandestinum, Pennisetum purpureum, Paspalum dilatatum, Paspalum plicatulum dan Setaria anceps. Adapun untuk kawasan tropika kering maka terdapat jenis-jenis rumput budidaya seperti Cenchrus ciliaris, Chloris gayana, Panicum coloratum, Panicum maximum, Panicum antidotale.

3.2. Leguminosa
Leguminosa adalah tanaman dikotilledon (bijinya terdiri dari dua kotiledon atau disebut juga berkeping dua). Famili tanaman leguminosa terbagi atas tiga sub-famili yaitu Mimosaceae, Caesalpinaceae dan Papilionaceae. Mimosaceae adalah tanaman perdu berkayu dengan bunga biasa sedangkan Caesalpinaceae mempunyai bunga irregular. Adapun Papilionaceae adalah tanaman semak berkayu dengan bunga papilionate atau berbentuk seperti kupu. Antar jenis leguminosa terdapat perbedaan morfologi. Umumnya, sistem perakaran leguminosa terdiri atas akar primer yang aktif dan mempunyai cabang-cabang sebagai akar sekunder. Akar primer (tap root) tumbuh jauh kedalam tanah. Sistem perakaran itu umumnya terinfeksi oleh bakteri dari species Rhizobium sehingga terbentuk bintil-bintil atu nodul-nodul akar. Antara bakteri dan tanaman leguminosa terjadi simbiose mutualistik. Untuk pertumbuhannya, bakteri menggunakan Nitrogen yang diserap dari udara dan kemudian populasi bakteri yang mati menjadi sumber Nitrogen untuk pertumbuhan tanaman leguminosa.

Sama seperti rumput, asal-usul leguminisa tidak diketahui dengan pasti. Fosil tertua menunjukkan bahwa leguminosa, bersama rumput, hadir didunia sejak lebih dari seratus tiga puluh juta tahun yang lalu, pada era mesozoic periode cretaceous pada jaman neocomian. Bentuk dasar leguminosa yang ada saat itu seperti pohon-pohon tropika. Kemudian, interaksinya dengan dengan mamalia primitif pada era itu (seperti Dinosaurus) yang bersifat browser (meramban daun pepohonan) serta injakan mamalia besar itu membuat pohon leguminosa mengalami penurunan populasi dan evolusi. Struktur tanaman ini mengalami modifikasi menjadi tanaman semak, tanaman pemanjat berkayu, tanaman musiman dan akhirnya menjadi tanaman tahunan (Semple, 1970). Tanaman leguminosa ini tersebar diseluruh benua namun tidak pernah menjadi tanaman yang dominan pada suatu kawasan seperti layaknya rumput. Apabila rumput secara alamiah dapat menjadi tanaman dominan pada suatu kawasan sehingga membentuk padang rumput (grassland) tetapi, tidak ada suatu kawasan didunia yang dapat disebut sebagai padang leguminosa (legumelands). Mungkin karena ada tenggang waktu yang lama (sekitar 110 juta tahun) sejak hadirnya rumput di dunia (yaitu sekitar 130 juta yang silam) dan baru digunakan oleh ruminansia pada jaman Miocene, sekitar 20 juta tahun yang lalu (Stewart, 1956). Tenggang waktu itu memungkinkan rumput tumbuh baik dan menyebar disemua bagian dunia. Sabana di Afrika saat ini, misalnya, ditumbuhi rumput secara lebih merata walaupun pada sabana itu terdapat juga pohon dan semak leguminosa. Umumnya jumlah leguminosa di padang rumput tidak lebih dari 10 persen dari jenis-jenis tanaman di padang itu.

Seperti halnya rumput, melalui proses seleksi yang dilakukan manusia terhadap biji-bijian sejak budaya hidup masih secara nomadik hingga menetap maka sebagian jenis-jenis leguminosa berkembang menjadi bahan pangan. Jenis-jenis leguminosa pangan yang kita kenal saat ini adalah seperti Glycine max, Arachis hypogea, Vigna sinensis.

Peran penting dari leguminosa tropika sebagai hijauan pakan untuk pastura maupun pakan ternak ruminansia baru mendapatkan perhatian sejak tiga dekade yang lalu. Sebelum kurun waktu itu, ilmuwan lebih memperhatikan jenis-jenis leguminosa temperate seperti species-species dari genus Medicago, Trifolium, Vicia dan Melilotus. Melalui riset maka dari benua Afrika mulai dikenal manfaat jenis-jenis leguminosa tropika seperti dari genus Glycine, Vigna, Indigofera, Dolichos dan Alysicarpus. Sedangkan dari kawasan Amerika tropis dikenal jenis-jenis leguminosa pakan ternak seperti dari genus Calopogonium, Centrosema, Desmodium, Leucaena, Phaseolus, Stylosanthes dan Teramnus.

Pada masa silam, sejak jaman kekaisaran romawi, tanaman pohon atau perdu telah dimanfaatkan manusia sebagai pakan ternak dengan cara dipotong dan daunnya diberikan kepada ternak atau ternak dibiarkan meramban. Namun, manfaat penting tanaman berkayu itu sebagai pakan ternak hanya diketahui kemudian (Baumer, 1992). Sebagai misal, perdu leguminosa Gliricidia maculata dan Gliricidia sepium telah di-introduksi ke Afrika pada akhir abad kedelapan belas sebagai tanaman naungan untuk perkebunan tanaman teh, kopi dan cokelat. Namun manfaat penting kedua jenis leguminosa itu sebagai pakan hanya dikenal sejak beberapa dekade yang lalu setelah diketahui bahwa daunnya mengandung 20-30% protein kasar, 14% serat kasar dengan kecernaan antara 50 sampai 70%.

3.3. Daun-daunan
Adapun yang dimaksud dengan daun-daunan dalam sub-bab ini adalah daun-daunan dari tanaman yang tidak tergolong sebagai jenis tanaman yang secara konvensional dikenal sebagai hijauan pakan ternak seperti rumput-rumputan ataupun leguminosa. Mereka dapat tergolong sebagai tanaman buah-buahan ataupun tanam pohon dikawasan hutan. Penggunaan daun-daunan ini umumnya dapat diamati dikawasan pertanian intensif dinegara-negara tropis, khususnya pada musim kemarau yang merupakan periode dimana jenis-jenis hijauan pakan ternak konvensional sulit didapatkan. Adapun beberapa jenis daun-daunan yang dimaksud misalnya berasal dari tanaman alpukat (Persea sp), nangka (Artocarpus sp) serta pisang (Musa sp). Jenis-jenis pohon yang daunnya dilaporkan digunakan sebagai pakan ruminansia di kawasan asia meliputi Erythrina variegata, Ficus (F. exasperata, F. bengalnensis, F. religiosa), Albizia lebbeck, Tamarindus indica, Cajanus cajan (Devendra, 1990).

3.4. Limbah tanaman pertanian
Limbah tanaman pertanian yang dimaksud dalam sub-bab ini adalah bagian-bagian dari tanaman yang dibudidayakan setelah produk utamanya dipanen untuk kepentingan manusia. Khususnya pada kawasan tropis dimana pemeliharaan ruminansia dilakukan oleh mereka yang mengoperasikan sistem pertanian campuran maka petani-ternak pada kawasan itu juga memanfaatkan limbah tanaman pertanian yang dibudidayakannya sebagai pakan untuk ternak ruminansia mereka. Adapun jenis-jenis limbah tersebut beragam antar lokasi, tergantung pada jenis tanaman pertanian yang dibudidayakan setempat. Pada kawasan Asia-Pasifik, jenis-jenis limbah pertanian itu meliputi jerami padi, jerami kacang tanah, jerami kacang kedelai, tebon jagung, jerami sorghum, daun ketela pohon, daun ketela rambat, daun talas dan pucuk tebu. Jenis-jenis limbah dimaksud selaras dengan jenis-jenis tanaman pertanian yang umum dibudidayakan.

Sejalan dengan penggunaan limbah pertanian seperti dimaksud diatas, petani ternak juga mengembalikan kotoran ternak yang dihasilkannya ke lahan pertanian sebagai pupuk. Kondisi itu menjadikan pola pertanian campuran pada sebagian besar kawasan tropis bersifat terintegrasi antara tanaman dan ternak dengan tujuan memaksimumkan sumberdaya pada tingkat rumahtanggatani (Schiere dan Kater, 2001). Integrasi semacam itu akhir-akhir ini menjadi semakin populer dikawasan empat musim sebagai bagian sistem pertanian yang disebut New Conservation Agriculture.

Khususnya untuk jenis tanaman jagung, pada kawasan tropika, menghasilkan tebon jagung setelah buah jagungnya dipanen untuk konsumsi manusia. Oleh petani-ternak, tebon jagung dapat langsung diberikan kepada ternak dalam keadaan segar atau terlebih dahulu dikeringkan matahari menjadi hoi (hay) kemudian disimpan dan diberikan kepada ternak pada saat musim paceklik pakan (umumnya terjadi pada musim kemarau). Pada berbagai negara dikawasan empat musim, tanaman ini justru dibudidayakan sebagai hijauan pakan ternak. Tanaman jagung dipanen sekaligus bersama buahnya untuk diberikan kepada ternak ruminansia sebagai sumber zat makanan dan energi. Jenis tanaman ini juga dibudidayakan untuk diawetkan dalam bentuk segar yang disebut silase untuk digunakan sebagai pakan pada musim dingin (winter). Saat itu ternak tidak dapat merumput di padang rumput yang bersalju dan harus dikandangkan dan diberi pakan silase jagung.

4. Apresiasi terhadap rumput
Masyarakat agraris seharusnya dapat menghargai pentingnya rumput dalam kehidupan sehari-hari. Sebagian besar pangan nabati seperti beras, jagung atau kacang tanah adalah produk vegetasi kelompok rumput dan leguminosa. Bahan pangan seperti daging, susu, keju, sosis daging sapi, es krim, yoghurt, kefir, susu pasturisasi, susu bubuk, susu kental manis atau butter juga tidak akan hadir dalam sistem pangan tanpa rumput. Wool dan kulit sebagai bagian budaya manusia adalah hasil dari interaksi ruminansia dan rumput. Boleh dikatakan bahwa memperkenankan ruminansia mengkonsumsi hijauan kiranya adalah pilihan terbaik yang telah dilakukan peradaban manusia untuk memanfaatkan jenis-jenis vegetasi yang tidak dapat dimanfaatkan manusia sebagai pangannya. Pilihan itu memungkinkan bahan-bahan ligno-selulosik dikonversi menjadi produk-produk yang berguna untuk kesejahteraan umat manusia. 

Masyarakat konsumen modern mengenal daging dan susu serta segala bentuk olahannya sebagai produk dari ternak ruminansia. Namun, kelompok masyarakat ini umumnya tidak mengenal peran vital rumput untuk keberlanjutan sistem produksi ternak ruminansia. Apresiasi pada rumput dan jenis hijauan pakan ternak lainnya kiranya hanya dijumpai di pedesaan dimana masyarakat petani-ternak terkonsterasi. Apabila populasi masyarakat ini semakin menurun seperti yang terjadi di Amerika atau Belanda (dimana masyarakat petaninya hanya sekitar dua persen) maka proses bagaimana produk-produk peternakan dihasilkan tidak lagi dikenal oleh masyarakat konsumennya. Rumput untuk masyarakat konsumen modern lebih dipersepsi sebagai asesoris keindahan lingkungan dalam bentuk taman dan tempat rekreasi atau justru vital sebagai komponen sarana olahraga seperti golf dan sepak bola. Keberadaan rumput seperti itu memang secara nyata dihadapi dan dinikmati sehari-hari oleh masyarakat konsumen modern.

Peran vital jenis-jenis hijauan pakan ternak terhadap lingkungan sebenarnya tidak hanya terbatas pada keindahan lingkungan sebagaimana dipersepsi oleh masyarakat konsumen modern. Pendekatan akademik menunjukkan bahwa komunitas jenis-jenis hijauan pakan ternak, dalam proses respirasinya, menghasilkan oksigen yang menjamin kontinyuitas pasokan udara segar didunia. Disamping itu, komunitas hijauan pakan ternak juga berkemampuan melindungi lahan dari proses erosi akibat siraman air atau hembusan angin. Jenis-jenis leguminosa pakan perdu seperti Gliricidia sp atau Leucaena sp, berpotensi dimanfaatkan sebagai penahan angin (wind breaker) atau naungan yang memberikan kenyamanan tempat tinggal. Secara umum dapat disimpulkan bahwa rumput dan leguminosa bukan saja potensial sebagai pakan ruminansia namun juga berperan, atau dapat diperankan, untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup dan kesejahteraan manusia.

Tidak mudah mengukur nilai ekonomi dari jenis-jenis hijauan yang tumbuh secara alamiah dan yang sengaja dibudidayakan pada sebagian besar permukaan lahan di Indonesia. Jika kontribusi sektor peternakan pada tahun 2002 bernilai sekitar 8,3 triliun rupiah maka sebagian tentunya dihasilkan dari sistem produksi ternak ruminansia yang sampai saat ini masih belum optimal dalam hal pemanfaatan sumberdaya pakan hijauan yang tersedia. Pada tahun yang sama, sekitar 60% ruminansia di Indonesia berada di pulau Jawa yang luasnya hanya sekitar 7% dari luas wilayah. Padahal, data statistik tahun 1999 menunjukkan bahwa luas area padang rumput yang potensial digunakan sebagai basis produksi ternak ruminansia di Kawasan Indonesia Timur diperkirakan tiga kali lipat dari yang tersedia di pulau Jawa (Ifar dan Bambang, 2002). Jika sumberdaya ini dimanfaatkan secara optimal, tentunya nilai ekonomis lahan rumput yang kosong dan idle itu akan meningkat. Lebih lanjut, jika total produksi ternak ruminansia yang hidup dari padang rumput alam atau buatan, termasuk tenaga kerja dan pupuk yang dihasilkannya dihitung maka boleh diyakini bahwa padang rumput yang saat ini kosong dan idle itu adalah sumberdaya bernilai tinggi dan sekaligus merupakan potensi ekonomi untuk masa depan. Sejarah perkembangan produksi ternak ruminansia di Eropa, Amerika dan Australia menunjukkan bahwa lahan berupa padang rumput alam yang dianggap tidak produktif untuk pertanian tanaman ternyata adalah aset bernilai ekonomi tinggi untuk produksi ternak ruminansia.

Daftar Pustaka
Crowder, L.V. and Chheda, H.R. 1982. Tropical Grassland Husbandry. Longman Inc. New York.

Flannery, K.V. 1969. Origin and Ecological Effects of Early Domestication in Iran and The Near East. In P.J. Ucko and G.W. Dimbleby (eds). The Domestication and Exploitation of Plants and Animals. Gerald Duckworth. London, pp 12-100.

Ifar,S dan Bambang, A.N. 2002. Potensi dan Prospek Usaha Peternakan Sapi Potong di Kawasan Timur Indonesia (KTI) Dalam Kerangka Pengembangan Kawasan Ekonomi Terpadu (KAPET). Semiloka Strategi Pengembangan KAPET di Kawasan Timur Indonesia dalam Menghadapi Era Global, 5-6 Juli, Universitas Brawijaya.

Keay, R.W.J. 1959. Vegetation Map of Africa South of The Tropic of Cancer. Oxford Univ. Press. London.

Mannetje, L.’t. 1978. The Role of Improved Pastures for Beef Production in The Tropics. Trop. Grassland 12, 1-9

Pratt, D.J., Greenway, P.J. and Gwynne, M.D, 1966. A Classification of East African Rangeland, With An Appendix on Terminology. J. Appl. Ecol. 3, 369-382

Rifkin, J. 1993. Beyond Beef. The Rise and Fall of The Cattle Culture. Penguin Books USA Inc. New York.

Reed, C.A. 1969. The Pattern of Animal Domestication in the Prehistoric Near East. In P.J. Ucko and G.W. Dimbleby (eds). The Domestication and Exploitation of Plants and Animals. Gerald Duckworth: London, pp: 261-380

Ruthenberg, H. 1980. Farming Systems in The Tropics. Clarendon Press. Oxford.

Schiere, H dan Kater, L. 2001. Mixed Farming Systems. Mixed Crop-Livestock Farming, A Review of Traditional Technologies. An FAO Report Based on Literature and Field Experiences. FAO Rome.

Stewart, O.C. 1956. Fire as The First Great Force Employed by Man. In H.L. Thomas (ed). Man’s Role in Changing the Face of the Earth. Univ. Chicago Press. Pp: 115 -133.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar